Jumat, 18 September 2015



Pembangunan Pertanian Berkelanjutan dengan Pertanian Organik




Pembangunan Pertanian Berkelanjutan dengan Pertanian Organik – Sebagai Negara yang beriklim tropis, Indonesia tentu akrab dengan kehidupan pertanian atau agraris. Maka menjadi sangat penting bagi Negara ini untuk meningkatkan produksi pertaniannya. Selain sebagai sebuah kekuatan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi juga sebagai sarana untuk meningkatkan pembangunan kehidupan sosial masyarakatnya. Melihat berbagai aspek di Indonesia, selain faktor alamiah seperti yang dijelaskan diatas, untuk membangun pertanian di Negara ini konsep dan istilah yang sesuai salah satunya adalah pembangunan pertanian berkelanjutan dengan pertanian organik seperti judul diatas.
pert organik
Pertanian merupakan sebuah proses yang dilakukan oleh seorang petani untuk menghasilkan suatu produk tertentu. Dalam proses ini, petani bertindak sebagai manajer atas tanah, tumbuhan maupun sumber daya lainnya yang dibutuhkan, misalnya pupuk, agar produk tersebut memiliki ciri khas. Tujuannya agar produk tetap memiliki daya saing yang tinggi. Agar daya saing tinggi ini tercipta, maka pendekatan pembangunan pertanian berkelanjutan dengan pertanian organik menjadi lebih tepat di Indonesia karena:
  • Pertumbuhan penduduknya cepat,
  • Tingkat inflasi tinggi,
  • Keadaan geografis wilayah tidak sama, bahkan cenderung memiliki perbedaan tajam.
Pertumbuhan penduduk yang meningkat dengan cepat membuat kebutuhan pangan juga semakin tinggi. Di sisi lain, ketersediaan sumber daya manusia juga melimpah yang salah satunya disebabkan karena inflasi cenderung naik dari tahun ke tahun membuat harga semakin mahal akan tetapi daya beli turun. Membuat peluang pekerjaan semakin mengecil. Begitu juga dengan keadaan geografis di beberapa wilayah, tidak mendukung untuk distribusi pupuk secara merata. Maka pilihannya tentu adalah penggunaan bahan-bahan organic. Selain karena harga, juga dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak. Maka pembangunan pertanian berkelanjutan dengan pertanian organik akan membangun manusia Indonesia yang memiliki ekonomi tangguh dan kehidupan social yang mapan (pengangguran berkurang, kriminalitas berkurang).Selain itu penggunaan sumber daya organik (non kimia) maka kesehatan masyarakat juga akan meningkat, dan produk tetap memiliki daya saing yang tinggi. Karena beberapa alasan inilah maka ada baiknya Pemeritah mulai memberdayakan kembali para penyuluh pertanian agar mensosialisasikan pembangunan pertanian berkelanjutan dengan pertanian organik ini. Karena dapat dikatakan para penyuluh ini adalah ujung tombak kemajuan pertanian di Negara tercinta kita.

sumber : http://jokowarino.id/potensi-tanaman-artemisia-annua-l-sebagai-obat-malaria/

Siti Komariah /13076/A2-1

Modernisasi Irigasi untuk Pengoperasian yang Lebih Sederhana, Efisien dan Efektif

Kategori: Artikel Pertanian Diterbitkan pada 10 Juni 2015
17ab

Untuk menjawab tantangan yang terjadi di bidang irigasi, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air melalui Direktorat Irigasi melaksanakan Workshop Modernisasi DI Rentang Lesson Learned Desain dan Metodologi Pelaksanaan Pembangunan dan Rehabilitasi Irigasi di Pendopo Sapta Taruna (4/6) Jakarta. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh Kepala Balai Besar Wilayah Sungai dan Balai Wilayah Sungai serta seluruh Sartuan Kerja se-Indonesia.
Tujuan diadakannya kegiatan ini juga dalam rangka peningkatan kualitas manajemen air dan irigasi di Indonesia yang nantinya turut menunjang hasil produksi pertanian di Indonesia. Direktur Jenderal Sumber Daya Air (Dirjen SDA), Mudjiadi, mengatakan bahwa ada tiga permasalahan besar dalam hal irigasi yakni seputar air, jaringan dan manajemen air. Dalam hal air dan irigasi, menurut pandangan Dirjen SDA ada lima hal yang penting dikedepankan, seperti bagaimana penyiapan keandalan penyediaan infrastruktur irigasi melalui peningkatan daya tampung air serta meningkatkan efisiensi. Dikatakan Mudjiadi, "dalam lima tahun ke depan target kita (Ditjen SDA) akan menjadi 15%, dengan kata lain harus dapat meningkatkan sekitar 350.000 ha lahan irigasi. Namun, sebenarnya target ini lebih rendah dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) yang menargetkan peningkatkan 9%, atau dari 11% ke 20% dengan perhitungan peningkatkan seluas 650.000 ha.
Di masa mendatang, irigasi akan dibagi menjadi dua hal, yakni irigasi premium dan irigasi bukan premium. Irigasi premium adalah irigasi yang airnya terjamin dengan adanya ketersediaan pasokan air dari bendungan. "Kita telah menargetkan bahwa nanti di tahun 2017, tingkat kerusakan bendungan akan kurang dari 5%", jelas Mudjiadi.
Hal kedua yang penting, yaitu penyempurnaan sistem irigasi. Hal ini berarti bahwa dalam sebuah planning, sistem operasi, maintenance dan monitoring irigasi telah diperhitungkan secara matang terlebih dahulu sebelum mengusulkan pembangunan jaringan irigasi baru. Hal ini sejalan dengan modernisasi yang kita laksanakan, karena modernisasi bertujuan bagaimana memudahkan sistem operasi. "Bila kita berbicara irigasi secara keseluruhan, maka kita memerlukan kesuksesan dari kegiatan monitoring, yang sangat memerlukan penggunaan teknologi informasi", tegas Dirjen SDA lagi.
Khusus untuk irigasi besar yang memiliki luas minimal di atas 10.000 ha, tidak pelak lagi harus memiliki operation room. Dikatakan Dirjen SDA bahwa di tahun depan Ditjen SDA harus sudah memiliki pilot project berkaitan dengan hal itu. Operation Room ini nantinya akan berlokasi di lantai 3 gedung Menteri, dan merupakan hasil kerja sama dengan Korea. " Saya mohon agar dari sekarang hal-hal tersebut dapat mulai kita set-up", Mudjiadi mengarahkan.
Hasil yang diharapkan dari keseluruhan proses manajemen air dan modernisasi irigasi adalah didapatkannya kepastian waktu, peningkatan kualitas hasil konstruksi, serta pengerjaan yang lebih sederhana dan simpel. "Mesti diingat, bahwa selama ini salah satu kelemahan kita adalah dalam hal quality control", jelas Dirjen SDA lagi. Sering kali direncanakan dan ditetapkan kekuatan konstruksi dalam hitungan tahun, semisal 20 tahun, namun tidak ada yang dapat sangat yakin dan pasti akan keakuratan prediksinya. Hal ini terletak pada kurangnya quality control yang dilaksanakan.
Hal keempat adalah pengelolaan institusi pengelola irigasi. Saat ini terdapat Unit Pengelola Irigasi yang terdiri top management hingga low management. Tidak menutup kemungkinan bahwa nanti unit pengelola irigasi ini akan dijadikan manajemen secara structural yang jelas. Hal ini sangat berkaitan nantinya dengan faktor yang kelima, yakni pemberdayaan sumber daya manusia di bidang irigasi.
(nanDatinSDA)
Publisher : Lita.psg
Istiqomah Aprilia R // 13079 // A2.1

Integrasi Budidaya Tanaman Tebu dan Ternak Sapi agar Saling Menguntungkan


antarafoto-1350715822-_thumb[2]
Sistem pertanian terpadu merupakan penggabungan semua komponen pertanian dalam suatu sistem usaha pertanian terpadu. Sistem ini mengedepankan ekonomi yang berbasis teknologi ramah lingkungan dan optimalisasi semua sumber energi yang dihasilkan. Di Indonesia model ini masih sebatas wacana karena masih kurangnya pengetahuan masyarakat dan diperlukan modal yang cukup tinggi. Padahal usaha ini sangat cocok dilakukan di Indonesia yang memiliki iklim tropis dengan limpahan sinar matahari sepanjang tahun dan curah hujan tinggi. Beberapa diversifikasi pertanian terpadu seperti minapadi dan longyam mengadopsi model pertanian terpadu.

Salah satu sistem pertanian terpadu pada kegiatan budidaya tanaman tebu adalah dengan mengintegrasikannya dengan peternakan sapi. Selain itu, dapat dikembangkan lagi dengan melibatkan peternakan cacing tanah dan produksi biogas. Hasil kegiatan budidaya tebu akan memberikan sisa hasil berupa ampas tebu, tetes dan daun saat panen. Ampas tebu selain digunakan sebagai bahan bakar pemasak di pabrik gula juga dapat digunakan untuk briket, bahan baku pulp, bahan kimia (xylitol,methanol dan metana) dan bioetanol melalui fermentasi.

Tetes tebu merupakan sumber energi bagi pakan ternak. Penambahan 5% tetes tebu dalam pakan akan menaikkan berat badan sapi karena meningkatkan jumlah energi dalam pakan dan cita rasa. Pada industri pakan, tetes tebu juga digunakan sebagai pembentuk pellet (pellet binder).
Pada sistem ini kotoran sapi juga berfungsi sebagai media pembiakkan cacing tanah dan bahan baku biogas. Pembiakkan cacing tanah dilakukan 40 hari kemudian dapat dipanen. Media pembiakkan cacing tanah juga bernilai ekonomi dan disebut vermikompos. Dari 100 kg media pembiakkan dapat diperolah 70 kg vermikompos. Vermikompos mengandung phosphor (0,6 – 0.7%), kalium (1,6 – 2,1%),nitrogen total (1,4 – 2,2%), C/N rasio (12,5 – 19,2), magnesium (0,4 – 0,95%), calsium (1,3 – 1,6%), pH 6,5 – 6,8 dan kandungan bahan organik 40,1 – 48,7%. Vermikompos dan pupuk kompos dari biogas dapat digunakan untuk pupuk bagi tanaman tebu dan buah-buahan.
sapi3_thumb[2]
Pembuatan Integrated Farming System
Faktor-faktor yang dibutuhkan untuk mendesain Integrated Farming System :
1. Modal
  • Modal meliputi modal teknis dan non teknis. Modal teknis meliputi biaya pembuatan kandang, harga tanah untuk lahan tanam dll. Peternak dapat meninjau keadaan lingkungan untuk kandang, ketersediaan air dll. Kemudian perlu diperhitungkan modal yang dibutuhkan, kapan modal akan kembali dan resiko yang akan dihadapi.
  • Modal non teknis menyangkut perizinan usaha karena integreted farming system merupakan gabungan pertanian, peternakan dan perikanan.
2. Tenaga kerja
Dibutuhkan tenaga kerja sesuai besarnya usaha yang direncanakan.
3. Teknologi
Penggunaan teknologi yang baik akan berpengaruh terhadap modal dan tenaga kerja.
4.Keuntungan
Keuntungan bersih diperoleh dari selisih antara biaya dan pendapatan kotor.Perhitungan biaya berdasarkan kegiatan produksi yaitu biaya tetap (fixed cost) yaitu biaya yang harus dikeluarkan meski usaha sedang tidak berjalan misalnya penyusutan kandang, retribusi dll, biaya variabel yaitu biaya yang jumlahnya mengikuti volume produksi misalnya biaya pakan, – pupuk, obat-obatan dsb. Biaya tetap dan biaya variabel merupakan biaya total.

Demikian yang dapat saya sampaikan pada kesempatan kali ini, kepada Allah saya memohon ampun jika ada salah. Wallahu a’alm bish shawab.
Sumber :
http://manistebuku.blogspot.com/
http://www.ptpn-11.com/integrasi-budidaya-tanaman-tebu-dan-ternak-sapi-agar-saling-menguntungkan.html

Siti Rohmah//13067//A2.1

Kamis, 17 September 2015

Penerapan Integrated Farming System

Penerapan Integrated Farming System


Integrated Farming System atau sistem pertanian terpadu merupakan penggabungan semua komponen pertanian, yang meliputi pertanian, peternakan dan perikanan dalam suatu sistem usaha pertanian yang terpadu. Sistem ini mengedepankan ekonomi yang berbasis teknologi ramah lingkungan dan optimalisasi semua sumber energi yang dihasilkan. Kelebihan dari sistem pertanian terpadu antara lain, efisiensi energi, meningkatkan efektivitas lahan, modal terus berputar dan ramah lingkungan.
Konsep terapan sistem pertanian terpadu akan menghasilkan F4, yang terdiri dari Food, Feed, Fuel dan Fertilizer. Food merupakan sumber pangan bagi manusia yang bisa dihasilkan dari bidang pertanian, peternakan dan perikanan. Feed meliputi pakan ternak dan pakan ikan yang berasal dari limbah bidang pertanian. Fuel merupakan sumber energi yang dapat dihasilkan oleh bidang pertanian maupun peternakan, seperti biogas dan baru bara dari sekam. Fertilizer merupakan pupuk untuk bidang pertanian yang dihasilkan dari bidang pertanian itu sendiri maupun dari bidang peternakan.
Sistem pertanian terpadu sudah diterapkan di Indonesia, salah satunya adalah MT Farm. MT Farm (Mitra Tani Farm) didirikan oleh Afnaan beserta 3 temannya bertempat di desa Tegal Waru, Ciampea, Bogor. Beliau merintis usaha peternakan domba dan kambing sejak masih kuliah di fakultas peternakan IPB. Berawal dari peternakan domba dan kambing, saat ini MT Farm berkembang ke peternakan sapi, pertanian dan perikanan. Ketiga bidang ini berkaitan satu sama lain.
MT Farm ini merupakan tempat kunjungan studi bagi peserta Indonesia Bangun Desa angkatan ke-2 pada bulan Juli 2014. Afnaan banyak memberikan motivasi dalam usaha budidaya peternakan kepada peserta.
Salah satu manfaat dari mempelajari sistem pertanian terpadu adalah bisa mengetahui keuntungan yang diperoleh dan hubungan saling ketergantungan antara pertanian, peternakan dan perikanan. Keuntungan yang diperoleh dari peternakan adalah kotoran hewan ternak dapat digunakan untuk pupuk kandang bagi tanaman. Sama dengan peternakan, pertanian pun sangat bermanfaat bagi dunia peternakan. Salah satu faktor yang harus terpenuhi dalam peternakan adalah kebutuhan akan pakan ternak Dari pertanian akan dihasilkan bahan-bahan yang dapat diolah menjadi pakan ternak. Banyak hewan ternak yang pemenuhan pakannya sangat bergantung pada pertanian, termasuk sapi dan kambing dimana makanan utamanya adalah rumput. Sedangkan, limbah hasil pertanian seperti sayuran reject digunakan untuk pakan ikan.
Ratna Dwi Indriasari (13077), Golongan A2.1
Sumber :
Anonim. 2014. Penerapan Integrated Farming System. 16 September 2015.          http://www.indonesiabangundesa.org/artikel/penerapan-integrated-farming-system.