Kamis, 08 Oktober 2015

Alat Peraga Penyuluhan Pertanian

Setelah kami melakukan kunjungan ke kelompok petani budidaya ikan di Kecamatan Sedayu. Kami menyimpulkan bahwa masalah utama yang dihadapi Kelompok Rukun Muda adalah adanya bercak merah pada ikan yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila. Sehingga banyak ikan yang mati. Karena permasalahan tersebut, kami membuat solusi dengan alat peraga penyuluhan berupa folder.
Alat peraga yang digunakan adalah folder. Folder merupakan selembar kertas yang dilipat menjadi 3, berisikan tulisan daripada gambar serta ditujukan pada sasaran untuk mempengaruhi pengetahuan dan keterampilan pada tahap minat, menilai dan mencoba. Adapun kelebihan dan kekurangan dari folder antara lain :
1.      Kelebihan
*      Lentur
*      Sangat terkendali
*      Biaya relative rendah
*      Peluang interaktif
*      Menarik perhatian
*      Lebih efektif dan efisien
*      Sasaran lebih besar bahkan menjadi bersifat massal
2.      Kekurangan
*      Kurang tepat bila digunakan pada masyarakat yang memiliki kemampuan baca rendah atau buta huruf,
*      Kurang cepat mencapai sasaran, apabila dipakai sebagai satu-satunnya teknik untuk menyampai pesan di daerah pedesaan dan apabila tidak disiapkan secara seksama dan hati-hati justru akan kehilangan arti maksud dan tujuannya.

Gambar 1. Folder Tampak Bagian Depan

Gambar 2. Folder Tampak Bagian Belakang

Rabu, 07 Oktober 2015

Kunjungan Praktikum Dasar-dasar Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian ke Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan

Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Daerah Istimewa Yogyakarta
Gambar 1. BKPP Daerah Istimewa Yogyakarta
Kegiatan penyuluhan merupakan proses perubahan pada individu serta masyarakat agar dapat terwujud perubahan yang lebih baik sesuai dengan yang diharapkan.  Dapat dilakukan melalui proses belajar dan mengajar dengan mengembangkan sistem pendidikan non formal secara efektif dan efisien. Pada penyuluhan pertanian dibekali ilmu pengetahuan serta keterampilan dan teknologi terhadap adanya inovasi baru pertanian, memberikan konsep dasar pertanian yang kooperatif, inovatif serta kreatif. Penyuluhan pertanian dilakukan oleh beberapa kelembagaan penyuluhan. Kelembagaan penyuluhan memiliki tugas dan fungsi untuk menyelenggarakan penyuluhan.
Lembaga penyuluhan provinsi DIY yang kami kunjungi tanggal 29 September 2015 adalah Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) yang berlokasi di Jalan Gondosuli Nomor 6 Yogyakarta (Timur stadion sepak bola Mandala Krida). Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Daerah Istimewa Yogyakarta berdiri sejak bulan Januari tahun 2009. Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) adalah unsur pelaksana Pemerintah Daerah di bidang ketahanan pangan dan penyuluhan, yang dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 7 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Lembaga Teknis Daerah dan Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Lembaran Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2008 Nomor 7).
Gambar 1. Gedung Sayap Utara 2
Berdasarkan Peraturan Gubernur DIY Nomor 57 tahun 2008 Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan DIY mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah di bidang ketahanan pangan serta koordinasi penyuluhan pertanian, perikanan, kehutanan dan perkebunan. Saat ini di BKPP terdapat Sekretariat, Pejabat Fungsional Penyuluh Pertanian, Pejabat Fungsional Pengawas Mutu Hasil Pertanian (PMHP) dan empat bidang yang saling terkait satu sama lain dalam melaksanakan tugas dan fungsinya guna mencapai tujuan BKPP , keempat Bidang tersebut adalah :
1.      Bidang Ketersediaan Pangan
2.      Bidang Distribusi Pangan Bidang
3.      Konsumsi dan Kewaspadaan Pangan
4.      Bidang Koordinasi Penyuluhan
Kelembagaan lain yang terkait dengan BKPP adalah :
1.      Dewan Ketahanan Pangan
2.      Lembaga Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah
3.      Komisi Penyuluhan.
Visi Badan ketahanan dan penyuluhan DIY yaitu “Mewujudkan ketahanan pangan yang kuat, berkarakter dan berbudaya secara berkelanjutan melalui tercapainya kemandirian dan kedaulatan pangan didukung oleh sistem penyuluhan yang efektif dan efisien”
Misi Badan Ketahanan dan penyuluhan yaitu:
1.    Meningkatkan kewaspadaan pangan dan menjaminketersediaan serta akses pangan yang berkelanjutan untuk antisipasi kerawanan pangan .
2.     Meningkatkan mutu konsumsi dan diversifikasi pangan berbasis karakter dan budaya local
3.     Memantapkan kelembagaan dan penanganan keamanan pangan
4.     Meningkatkan keterjangkauan pangan melalui pengaturan sistem distribusi, harga dan akses pangan
5.  Meningkatkan kemampuan dan peranserta kelembagaan masyarakat dalam pengelolaan ketahanan pangan dan penyuluhan
6.    Mengembangkan sistem penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan sesuai karakter dan budaya lokal dan kebutuhan petani, nelayan dan masyarakat sekitar kawasan hutan.

Struktur Organisasi
Struktur Organisasi BKPP DIY saat ini (per Januari 2015) adalah sebagai berikut :
Gambar 3. Struktur Organisasi BKPP Daerah Istimewa Yogyakarta 2015
Bagan Struktur Organisasi BKPP DIY di atas berdasarkan pada Peraturan Daerah Provinsi DIY Nomor 7 Tahun 2008 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Lembaga Teknis Daerah dan Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Senin, 05 Oktober 2015

Wawancara bersama Kelompok Tani Ikan di Desa Agromulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Yogyakarta



Gambar 1. Petani sedang memberi pakan ikan
Pada hari sabtu tanggal 19 September 2015, kami melakukan kunjungan ke salah satu kelompok petani yang berada di Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Kami adalah kelompok praktikum Dasar-dasar Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian yang ditugaskan untuk mencari tahu permasalahan yang dihadapi oleh petani atau nelayan. Permasalahan-permasalahan tersebut nantinya akan kami kaji untuk mendapatkan solusi. Setelah itu kami akan memberikan suatu penyuluhan tentang solusi yang akan diberikan dalam menghadpi masalah kelompok tani yang kita kunjungi.
Sebelum menuju ke Sedayu, kami berempat berkumpul di kampus terlebih dahulu jam 14.00 WIB. Bisa dibayangkan, cuaca waktu itu sangat panas apalagi musim kemarau. Kami sempat berdebat dengan lokasi yang akan kami tuju, karena maklum kami hanya cewek-cewek yang tidak terlalu hafal jalan. Setelah tanya berkali-kali pada masyarakat akhirnya kami mendapatkan info tentang kelompok petani ikan yang ada di Kecamatan Sedayu. Ternyata kelompok tani tersebut telah menjadi usaha individu. Kami pun diberi info tentang kelompok tani lainnya. Nama ketuanya adalah Pak Wawan. Sempat nyasar sedikit, namun kami sampai juga di kediaman Pak Wawan. Namun kelompok tani Pak Wawan sudah dikunjungi oleh dua kelompok praktikum lainnya. Kami diberi informasi lagi bahwa masih ada kelompok tani yang perlu diberi motivasi. Seperti biasanya, kami bertanya sana sini. Dan alhasil kami sampai di rumah Pak Nurhadi ketua Kelompok Tani Rukun Muda. Tetapi, kami disuruh beliau ke rumah sekretarisnya karena yang lebih mengetahui teknis dan medannya adalah Pak Ruli.
            Kelompok petani budidaya ikan yang kami wawancarai namanya adalah Rukun Muda yang mempunyai visi untuk mensejahterakan anggota kelompok. Kelompok ini didirikan pada tahun 2011. Yang beralamat di Dusun Samben RT 03 RW 03, Desa Agromulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Kelompok Rukun Muda terdiri dari 20 anggota yang diketuai oleh Bapak Nur Hadi. Anggota ada yang berlatar belakang masih sekolah, kuliah, buruh, guru, karyawan dan lain-lain karena budidaya ikan ini masih bersifat pekerjaan sambilan.
            Awal mula terbentuknya kelompok Rukun Muda ialah munculnya ide untuk memanfaatkan lahan pertanian yang kurang produktif di Desa. Lahan tersebut kemudian digali dan di buat kolam ikan yang berjumlah 20, dimana masing-masing anggota mendapatkan 1 kolam. Luas semua lahan kolam dan tanggul tersebut yakni 1504 m2. Penyewaan lahan  Rp 900,00 per meter dibayarkan ke sewa kas Desa setahun sekali. Jadi uang yang perlu dikeluarkan oleh kelompok Rukun Muda dalam setahun untuk penyewaan lahan Rp 1.353.600,00. Jenis usaha budidaya ini adalah pembesaran ikan. Jenis ikan yang dibudidayakan adalah ikan lele, patin, gurame, dan nila. Benih ikan dibeli dari kelompok budidaya ikan lainnya yang ada di Sedayu. Setelah ikan besar, kolam akan dialihkan menjadi pemancingan dan rumah makan. Namun ada juga pemborong yang membeli ikan secara langsung. Apabila dihitung, keuntungan yang didapatkan selama 3 bulan rata-rata Rp 1.000.000,00 per kolam. Masalah yang ada di kelompok Rukun Muda yaitu ketersediaan modal, pemberian pakan pelet pada ikan terlalu banyak sehingga menjadi boros, adanya bintik merah pada ikan yang bersisik, kualitas airnya kurang bagus, tidak semua anggota berperan aktif dalam kelompok, manajemen pengelolaan kelompok kurang, produksi ikan hanya sedikit sehingga keuntungannya tidak banyak dan kurangnya pengetahuan dari sumber daya manusianya.
            Rencana solusi untuk mengatasi permasalahan yang ada pada kelompok Rukun Muda adalah :
1.      Menjelaskan kiat-kiat untuk mendapatkan peminjaman modal dari Bank.
2.      Pengalihan pakan pelet pada ikan lele.
3.      Pemberian obat atau cara untuk mengobati penyakit ikan dengan cara tradional yang ampuh, mudah dan murah.
4.      Penambahan bahan atau obat agar ikan mempunyai kekebalan yang tinggi terhadap lingkungan yang buruk.
Memberikan tips-tips manajemen dan pengetahuan dalam mengelola budidaya ikan tersebut agar produksi ikan yang dihasilkan tinggi dan keuntungannya juga banyak.


Yogyakarta, 04 Oktober 2015